jadi ceritanya, urusan administrasi dengan KUA sudah 99% beres. yahh, cukup melegakan meskipun diakhiri dengan saya yang misuh-misuh karena sistem birokrasi yang menyebabkan saya merasa dirampok *fyuuuuhhh...*
untuk urusan bagaimana mengurus surat numpang nikah *ada istilah yang lebih baku gak sih?* mungkin si brain yang akan lebih berkompeten untuk menjelaskannya. sedangkan saya disini hanya akan menceritakan urut-urutan urusan pendaftaran nikah yang pada umumnya dilaksanakan di wilayah domisili si perempuan. kecuali kalo kedua belah pihak berdomisili di kota/kabupaten yang sama, mungkin pengurusannya bakalan beda lagi *lebih mudah kali ya? biarin si cowok aja yang ngurus, hehehe...*. nah, urut-urutan ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya kemarin, tentunya setelah saya memegang dokumen lengkap dari calon mempelai pria, yaitu 1) surat numpang nikah dari KUA setempat *domisili si brain*; 2) surat keterangan asal-usul *asal usul si brain, bukan dinosaurus*; 3) surat keterangan orangtua/wali; 4) surat pernyataan belum menikah; 5) salinan kartu keluarga; dan 6) salinan KTP. setelah dokumen ini saya pegang, selanjutnya giliran saya untuk mengurus dokumen kelengkapan pendaftaran nikah di KUA di wilayah tempat saya tinggal *kabupaten subang milik kuring, kuring nu nyaring ngajaring ---> penggalan lagu hymne subang*
okeh, here we go..
1. surat pengantar dari RT/RW
seperti namanya, surat ini tentu diperoleh dari RT komplek rumah saya. untuk mengefisienkan waktu, surat ini diurus oleh mama saya satu hari sebelum saya ke KUA. Kepala RT-nya tetangga belakang rumah saya dan merupakan suami dari Ibu Yulia, kepala sekolah SMA saya, sekaligus teman oom-nya si brain yang kerja di Diknas *oke, kayaknya ini gak penting*. apabila surat dari RT sudah di tangan, maka surat dari RW tidak terlalu diperlukan lagi. apalagi kalo kepala RW-nya orang sibuk macam kepala RW di komplek saya itu. pukul setengah tujuh pagi saya ketok pintu rumahnya, pak RW sudah tak ada di tempat. lain kali kalo milih kepala RW perhatikan kesibukan rutinnya ya.. *pesan moral tentang rukun berwarga dan bertetangga*
2. surat keterangan dari kelurahan
dan disinilah program perampokan dimulai. untuk semua surat pengantar yang saya peroleh *lihat no 2, 3, dan 4 dari daftar dokumen brain*, saya harus membayar limapuluh ribu rupiah! padahal gak banyak yang dikerjakan oleh si petugas, hanya mengisi formulir yang sebenarnya bisa saya lakukan sendiri. setelah formulir diisi kemudian ditandatangan oleh pak lurah *well, saya gak ketemu langsung sama pak lurah sih, tapi kata petugasnya, dokumen itu hanya boleh ditandatangan pak lurah, yang katanya (lagi) hari itu sedang ada di kantor*. sempat ada insiden kecil di kantor ini, dokumen-dokumen brain yang saya masukkan ke amplop plastik ternyata KETINGGALAN! syukurlah ada desi yang dengan sukarela balik lagi ke rumah unuk mengambil dokumen tersebut. kebiasaan emang...
3. pendaftaran nikah di KUA
program perampokan berlanjut. setelah menyerahkan semua dokumen dari kelurahan (plus salinan KK dan KTP saya), petugas yang melayani saya mencatat tanggal dan waktu rencana pelaksanaan akad nikah. awalnya saya pikir hal semacam ini berlaku sistem booking, karena siapa tahu sudah ada pasangan lain yang berniat menyelenggarakan akad nikah pada tanggal dan waktu yang sama. tapi sepertinya tidak. meski demikian, saya diminta mengecek kembali ke KUA paling lambat sehari sebelum hari-H. nah, apakah saya akan menuruti saran si petugas tersebut? tentu saja tidak! gimana coba kalo pas sehari sebelum hari-H gak ada penghulu yang available untuk menikahkan kami tanggal 26 juni 2010 jam 8 pagi??? mepet benerrr ngeceknya! karena itu, saya berniat untuk mengecek kembali paliiiiiing telat seminggu sebelum hari-H. atau untuk lebih amannya, SETIAP HARI akan saya 'teror' petugas tersebut via ponsel. nah lho, suruh siapa ngasi nomor hape ke saya?? :P
saya sudah menduga bahwa akan ada biaya administrasi yang harus dibayar di KUA. sebelum serah-serahan dokumen beres, si petugas menjelaskan pada saya mengenai tanda tangan amil yang tidak ada dalam surat pengantar kelurahan. setelah berbasa-basi menggunakan majas eufimisme, inti yang saya tangkap adalah: saya harus 'ngamplopin' buat sang amil karena saya sudah mendaftarkan nikah tanpa melewati prosedur amil. padahal yaaaahhh, pihak kelurahan juga gak menyuruh saya untuk menghubungi amil. tambahan lagi, petugas KUA sendiri yang bilang bahwa saat ini pengurusan nikah tidak harus melalui amil melainkan mengurus sendiri saja. tapi tapi tapiii, kenapa saya harus tetap 'membayar' amil??? nah karena saya gak mau ribet, akhirnya dicapai kesepakatan bahwa saya akan menitipkan 'amplop' buat sang amil via KUA, biar nanti amil-nya sendiri yang ngambil ke KUA. setelah kesepakatan pembayaran amil diperoleh, si petugas berkata pada saya, "biaya administrasinya jadi dua delapan, neng". oh, baiklah, segitu mah wajar, ujar saya dalam hati. berhubung gak ada limapuluhan ribu di dompet saya *rencananya saya akan membayar KUA 28 ribu dan ngamplopin amil 22 ribu, jadi kan pas 50 ribu tuh..*, akhirnya saya menyerahkan selembar ratusan ribu. eh anehnya, si petugas kok diem aja, gak segera memberikan kembalian 50 ribu pada saya. setelah beberapa detik kebingungan akhirnya saya beranikan untuk bertanya, "bu, dua delapan itu dua puluh delapan ribu atau....", belum selesai kalimat saya dengan reflek si petugas menyahut, "duaratus delapanpuluh ribu, neng...".
saya shock.
Tuhan....
kok mahal siiiiiiiiiiiiiiihhh??? aaaaarrrrggghhh!!!
dan adegan berikutnya adalah saya sibuk ngubek-ngubek dompet dan menyadari bahwa... duit saya KURANG!! *tepokjidatramerame*
aih aiiihhh...beneran dirampok saya.
akhirnya saya dan desi mohon izin pada petugas tersebut untuk narik duit dulu di ATM. desi berkelakar, baiknya di KUA sekalian aja disediakan mesin ATM, jadi gak usah jalan kaki ke pasar dulu hanya untuk nyari ATM. hadduuuuhhh.... >.<
begitulah, akhirnya saya membayar tigaratus tigapuluh ribu di KUA. duaratus delapanpuluh ribu untuk 'biaya administrasi', dan limapuluh ribu untuk 'ngamplopin' amil. ah iya, ditambah lagi limapuluh ribu dan sepuluhribu untuk mengurus dokumen di kelurahan. yang sepuluhribu terakhir juga ada ceritanya sendiri. jadi pas di KUA saya diminta untuk menandatangani surat pernyataan bermaterai *materainya harus saya beli sendiri* mengenai status perkawinan saya saat ini *jadi inget lagu: apakah kau masih gaaadiis, ataukah sudah jaaaandaaa..*. nah, surat pernyataan ini HARUS ditandatangani pula oleh pihak kelurahan. alhasil saya mesti balik lagi dongs ke kelurahaaaaann... setelah ditandatangani, petugas kelurahan bilang sama saya bahwa untuk surat ini biaya administrasinya beda lagi, "cuma sepuluh ribu kok, neng...". iiiiiiiihhh, ampun deh!!!
dodolnya, saya baru kepikiran soal kuitansi dalam perjalanan pulang dari KUA. tadinya saya berniat balik lagi ke KUA hari ini *saya ke KUA kemarin, sehari sebelum tulisan ini saya buat* untuk menyerahkan surat sepuluhribu itu sekaligus minta kuitansi. tapi karena desi mesti ke kampus, saya jadi males. ntar-ntar aja lah, lagian gak yakin juga bakalan dikasih, whew...
dasarnya emang saya gak pengen ribet, tapi bukan berarti saya gak boleh misuh-misuh kaaaaaaaann??
dan saya pun misuh-misuh ke haris -sahabat saya- via sms, ternyata biaya yang dia bayar di KUA Sukabumi lebih besar lagi. DELAPANRATUS RIBU RUPIAH! jengjeeeeeeeeeeenggg... jadi sebenernya berapa sih biaya resmi pendaftaran nikah ituuuu???
[eh kok jadi panjang gini ya tulisannya. kayaknya emang saya lagi gak mood nulis tapi mood banget buat ngomel-ngomel dan menceracau via tulisan, hehehe... brain, sabar yah :D]
dua orang berkomentar sama hari itu:
pantesan orang lebih milih nikah sirri daripada nikah resmi di KUA...
ohyeaaaaahhh...
komentar saya sih:
kalo kayak gini caranya, saya mending cukup sekali aja deh nikahnya...
fyuuuuhhhh....
::pinky, laginunggubraindateng::
nikah ama orangbogor emang agak ribet. heheheee,,, jangan lupa minta kuitansinya ya pinky. :p
BalasHapusNB: kapan2 kitah liat bintang lagi dari atas genteng. :">
ah iya, tadinya mau nelpon ibu-ibu petugas KUA-nya hari ini, tapi lupaaa...
BalasHapusmalem ini langitnya bagus lagi gak ya? nyari tempat asik buat nongkrongin bintang di bogor yuk, brain :D