Selasa, 23 Maret 2010

hujan kemarin sore

kemarin hujan turun deras. sangat deras. disertai angin, sampai-sampai motor yang dikemudikan si brain sempat oleng *itu juga kata yang nyetir sih, yang dibonceng mah gak kliatan apa-apa*

dan saya pun akhirnya tak bisa menghindarkan diri dari siraman air hujan. basah kuyup. di depan komplek perumdos kami berhenti sejenak karena air terlalu tinggi untuk dilewati. hujan sore itu benar-benar menggila. dan saya pun mulai menggigil kedinginan.

hingga akhirnya kami tiba di rumah seorang sahabat. mengantar bakso pesanan, dilanjutkan dengan obrolan santai berteman kopi hangat. berkali-kali kami tertawa bersama. perlahan rasa hangat menyelusup, tidak hanya ke dalam tubuh, tapi juga ke dalam hati. sesaat saya bisa melupakan 'siksaan' hujan yang saya alami beberapa saat sebelumnya.

pulang ke rumah, saya dan brain janjian makan soto ba'da sholat maghrib. agak tak sabar menanti adzan karena terbayang nikmat dan hangatnya kuah soto.

sambil menunggu adzan, saya menyempatkan diri membaca kembali sekaligus menghapus beberapa pesan dari kotak masuk ponsel *kapasitas kotak masuk saya tidak seheboh punya si brain yang bisa menampung ribuan pesan, mau gak mau saya mesti rajin menghapus pesan-pesan yang sudah terbaca*. tiba-tiba satu pesan menyita perhatian saya, bahkan hingga tiba waktu sholat, perasaan saya makin campuraduk gara-gara pesan itu. tergetar, saya beranikan diri untuk mem-foward pesan tersebut ke lima teman. ya, hanya lima. setelah itu saya beranjak mendirikan sholat.

di penghujung sholat saya tergugu, sehebat apapun hujan yang terjadi hari ini ternyata masih belum apa-apa. pesan itu mengingatkan saya, bahwa nun di belahan bumi sana ada yang lebih menderita daripada saya. tak hanya hujan air yang mereka alami, tapi hujan mesiu. dan bagaimanakah mereka berlindung dari hujan yang demikian itu? sesaat setelah hujan, saya bisa tertawa lepas dan bergembira bersama orang-orang yang saya sayangi, tapi mereka? bagaimana mereka bisa tertawa sedangkan orang-orang yang mereka cintai justru terbaring kaku bersimbah darah sesaat setelah hujan mesiu mereda? sesaat setelah hujan lebat kemarin sore, saya masih bisa menikmati makan malam saya yang hangat dan lezat, sedang mereka? apa yang mereka makan? cukupkah kualitas dan kuantitasnya? bisakah mereka menikmati santapan mereka dengan damai?

tiba-tiba saja saya merasa diserbu jutaan rasa bersalah. saya melupakan mereka. munasharah kemarin saya lewatkan, belum ada sekelumit pun yang saya infakkan untuk mereka sampai detik ini, pun belum ada doa yang khusus saya panjatkan untuk mereka. dan saya tak kuasa menahan sesal. Rabb, ampuni saya...

di tengah teriknya lapangan monas
Ya Allah, sebagaimana Engkau pernah menghantar burung-burung ababil menghancurkan tentara bergajah musyrikin, maka kami memohon kepada-Mu ya Allah, turunkanlah bantuan-Mu pada orang-orang Islam di Palestina, hancurkanlah rezim zionis sedahsyat-dahsyatnya...Aamiin...

sepotong doa singkat di atas *disampaikan via sms oleh salah seorang senior saya di bumi nanggroe sana* sudah saya teruskan ke beberapa kawan. saya berharap pesan itu akan diteruskan lagi ke banyak orang, hingga semakin banyak pula orang yang berdoa untuk muslimin Palestina.

saya bahkan tak berani berharap doa singkat saya akan menjelma menjadi batu-batu yang menghancurkan para zionis. namun saya bertekad, mulai hari ini saya mencoba sekuat tenaga untuk menyelipkan doa bagi muslimin Palestina dalam doa-doa harian saya. semoga Allah berkenan mendengarnya, atau paling tidak, Ia berkenan menurunkan hujan deras lagi untuk sekedar mengingatkan saya...

::pinky::

PS. tadinya mau aplod di multiply juga, tapi keburu males ngeditnya..

1 komentar:

  1. baru aja mau nulis tentang ini,,,

    doa sudah terucap. cukup? belum.
    infak sudah disumbangkan. cukup? belum juga.
    sms disebarkan. sudah berpikir bahwa itu cukup? jangan pernah.

    tidak pernah cukup, sampai saudara2 kita di palestina, afghanistan, irak, dan seluruh dunia terbebas dari penjajahan kaum musyrikin.

    ::brain::

    PS. speechless..

    BalasHapus