dan saya bersyukur karena hingga hari ini semua hal terkait proses itu masih selalu bisa kita bicarakan baik-baik. ya, saya sangat beruntung karena dia adalah pendengar sekaligus penyimak yang sangat baik, setidaknya sampai hari ini :). tentunya saya berharap agar esok, lusa, dan di hari-hari seterusnya, kami akan selalu bisa membicarakan semua hal -enak-tidak enak- dengan baik-baik, entah dengan cara minum teh, kanpai rootbeer, atau ngemil kebab.
hingga hari ini sepertinya saya deh yang lebih banyak bicara. ngakunya sih senewen, padahal emang dasarnya aja bawel :D. boleh saja saya merasa bahwa hari-hari belakangan ini telinga (dan perhatiannya) bisa selalu saya andalkan. namun saya harus sadar, kedepan mungkin akan lebih banyak lagi mulut-mulut yang membutuhkan telinganya, dari sekedar mendengarkan, menyimak, hingga memberi solusi. dan mungkin tidak hanya telinganya, tapi juga tangannya, kakinya, isi otaknya, dan hatinya. meskipun prediksi ini sudah pernah ia sampaikan jauh-jauh hari kemarin, tetap saya merasa bahwa menjalankan konsekuensinya tidak akan semudah menganggukkan kepala.
karenanya saya merasa perlu untuk belajar sabar lebih giat lagi. semoga saya diberi kesabaran untuk bisa terus belajar sabar :)
::pinky, tibatiba mules abis minum mochaccino::
"dan mungkin tidak hanya telinganya, tapi juga tangannya, kakinya, isi otaknya, dan hatinya."
BalasHapusfeels like i'm reading a thriller novel about mutilation murder... :D
sabar memang ada batasnya, tapi kita bisa sama2 belajar melebarkan batas itu. :)
yeah, as if they want your body for their snack-time *psycho*
BalasHapusorang sabar jidatnya lebar ya, mi... :p
teknik diplomasi teh dan kebab bisa diaplikasikan ke papa-mama ga, yas? hehe..
BalasHapus